Jika kita sejenak menengok ke belakang perjalanan hidup ini, banyak hal yang , apabila kita renungkan, terjadi diluar apa yang kita inginkan, atau bayangkan. Mungkin ada diantara kita ada yang ketika kecil bercita-cita kelak kalo sudah dewasa ingin menjadi seorang insinyur, ternyata dalam berjalannya waktu, dia menjadi seorang polisi, profesi  yang mungkin dulunya dia anggap sebagai kurang pas dengan keperibadiannya. Bahkan kini dia merasa “comfort” dengan profesinya ini.  Ditambah dengan pujian dari keluarga maupun teman dekatnya,, “kamu pas banget deh jadi polisi, kan kamu orangnya dewasa dan badan kamu  atletis”. Heem….. ada senyum kecil yang menyungging di bibirnya ketika ingat akan hal itu.

Mungkin ada juga orang yang dulunya ingin sekali menjadi seorang diplomat seperti ayahnya, bertemu dengan berbagai macam tipe orang dari berbagai negara, bisa jalan-jalan keluar negeri gratis, menikmati keragaman budaya dan tradisi dari berbagai negara, seolah-olah dunia ada di genggamannya. Namun ketika dia semakin mengenal dunia ini, dia akhirnya memutuskan menggeluti dunia wiraswasta, yaa… dunia para pengusaha sebagai profesi tetapnya. Yang ada dibenaknya adalah keinginan untuk mencari materi sebanyak-banyaknya. Dia terobsesi oleh buku karya Robert T Kiyosaki yang berjudul “Cash Flow Quadrant”. Dia merasa sangat bersyukur berprofesi sebagai pengusaha, dia berfikir, ”apabila saya menjadi seorang diplomat, mungkin saya tidak mampu memiliki kekayaan yang melimpah dan tidak bisa membuka lapangan kerja bagi banyak orang.

Lain lagi dengan orang yang dulunya ingin menjadi pegawai negeri,. Dalam angan-angannya, pegawai negeri adalah profesi yang pasti untuk masa depan, tidak perlu kerja keras, tiap bulan pasti dapat gaji, bahkan ada yang bilang agak kasar bahwa pegawai negeri itu istilahnya ”PGPS”, Pintar Goblok Penghasilan Sama” , tetapi setelah menduduki bangku kuliah, muncul ketertarikannya pada dunia tulis menulis, dunia yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya, yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi seorang wartawan dengan alasan menyalurkan bakat jurnalistiknya dan memenuhi kedahagaan intelektualnya.

Dalam urusan tempat tinggal, juga ada orang yang ketika kecil berkeinginan kelak ketika dewasa bisa mengadu nasib di kota besar. Kota yang dalam imajinasinya diwarnai gedung pencakar langit, penuh dengan kesenangan dan kemudahan dalam sarana dan prasarana. Namun ketika dia diterima di suatu perusahaan di kota besar itu, ternyata dia ditempatkan di suatu kabupaten yang ”nan jauh dimata”, dimana akses transportasi sangat sulit, pasar yang merupakan tempat jual beli kebutuhan sehari-hari hanya ada setiap seminggu sekali, ketika malam menjelang, tidak ada hingar bingar lampu yang menerangi jalanan, yang ada hanya kerlipan beberapa lampu milik rumah warga di pinggir jalan, dan suasana sunyi menyelimuti malam.   

Banyak lagi peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, baik yang berkaitan dengan rizeki, jodoh, maupun kelapangan dan kesulitan, ternyata jauh meleset dari apa yang pernah ada di fikiran kita. Kadang ketika merenung sejenak, tersungging senyum di bibir merespon semua ini, bagi seorang polisi seperti cerita diatas, mungkin dia berfikir, ” kenapa ya ketika kecil aku tidak ga bercita-cita sedikitpun jadi polisi, padahal profesi ini sungguh menyenangkan, usai memberikan pelayanan terbaik buat masyarakat, ada kepuasan batin yang luar biasa yang tidak bisa dinilai dengan uang. Begitu pula dengan cerita-cerita yang lain. Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran adalah: (i) ada ” Invisible Hand” dibalik semuanya, yang mengatur kehidupan ini, yang mendesain hidup ini dengan sempurna. Kemampuan manusia sebatas berikhtiar sekuat tenaga dan berdoa sungguh-sungguh. Segala apa yang terjadi pada diri kita, baik yang menyangkut kematian, rizki maupun jodoh, semua merupakan ketetapan dari Alloh SWT. Keyakinan bahwa Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya dan tidak akan pernah berbuat dzalim terhadap hamba-Nya, harus ada dalam diri setiap manusia. Selain berikhtiar dan berdoa, manusia juga wajib mensyukuri apa yang telah Alloh SWT karuniakan kepadanya. (ii) apapun kedudukan seseorang, baik dia seorang konglomerat atau kurang harta, cerdas seperti bill gates atau ber ”IQ” jongkok, keturunan darah biru atau keturunan rakyat jelata, jenderal atau prajurit, catat fisik atau rupawan, sehat atau penyakitan, semuanya bukan indikator ”kesuksesan” di sisi Alloh SWT, semua itu hanya merupakan romantika kehidupan untuk menyelaraskan alam ini. (iii) segala sesuatu di dunia ini hakikatnya adalah milik Alloh SWT, tidak ada hak sedikitpun bagi manusia untuk menyombongkan diri dengan apa yang dia miliki. Dan (iv) apapun yang Alloh titipkan kepada manusia di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akherat nanti.

Sekian

 

Sungguh yang paling mulia di antara kamu disisi Alloh ialah orang yang bertaqwa….”. (QS. Al Hujarat : 13)