Merenung tentang sosok guru, pahlawan tanpa tanda jasa, saya jadi teringat salah satu guru saya ketika di saya masih di bangku SMU di kota solo. Beliau bernama Bapak Drs. Syamsuddin. Seorang guru yang menurut saya bisa dijadikan teladan di dunia pendidikan. Kebersahajaan guru yang satu ini membuat banyak siswa terkesan. Guru yang dapat menguasai mata pelajaran yang diembannya dengan baik, guru yang jarang sekali marah kepada anak muridnya. Pernah beliau berkata, ”saya sebagai seorang guru masih dalam taraf guru yang mampu mengajar, saya belum mampu menjadi seorang pendidik yang baik, karena menjadi pendidik jauh lebih sulit dari pada sekedar menjadi pengajar”.  Statement yang mempunyai nilai tersendiri buat saya…

Dalam hal marah, beliau terkenal sebagai orang yang sabar, jarang sekali beliau marah. Pernah suatu saat beliau sudah tidak mampu menahan amarahnya melihat kelakuan salah satu anak didiknya yang terkenal ”trouble maker” dikelas. Namun, kemarahan itu hanya berlangsung sesaat, kemudian beliau terdiam sejenak”—nampak jelas beliau berusaha menahan marah—dan kembali melanjutkan pelajarannya.

Di depan kelas, beliau pernah sedikit bercerita, ada salah satu orang tua yang anaknya datang ke rumahnya dengan maksud agar dimudahkan bisa menjadi salah satu murid di SMU itu, dengan memberikan satu amplop uang yang mungkin jumlahnya tidak sedikit. Tetapi secara baik-baik, beliau memilih untuk menolak pemberian itu, beliau sangat ingin menjaga diri dan keluarganya dari penghasilan dari sumber yang tidak jelas. Orang tua itu langsung terkesan dengan beliau, dan dan terucap, ”baru kali ini saya menemui seorang guru yang menolak pemberian uang pelicin seperti ini”.

Ada moment yang sulit untuk dilupakan, moment yang kurang baik tapi lucu juga, suatu saat ada pertandingan tarik tambang antar kelas yang biasa diadakan usai ujian catur wulan. Si ”trouble maker” di kelas saya kebetulan ikut berpartisipasi di event itu, saat tarik tambang sudah dimulai, dengan kekuatan penuh, dia menarik tambang bersama teamnya sembari menirukan salah satu statement iklan sebuah rokok, dia berteriak keras ”Dji…..Sam…..Soe……….namun setelah itu dia lanjutkan, ” Sam…..Soe……Din…… Pecahlah tawa para murid yang menyaksikan pertandingan itu. Ya……. kadang kesabaran dan kebaikan seseorang dijadikan ajang untuk melecehkan orang tersebut. Heeeem…. tidak didalam kelas, diluar kelas pun dia dicap si ”trouble maker”. Entahlah… pak syamsuddin mendengar teriakan itu atau tidak.

Tidak lupa disaat mengajar, beliau menyempatkan diri memberikan sedikit nasihat untuk muridnya, salah satu nasihatnya, beliau berpesan kelak, jika suatu saat anak didiknya sudah bekerja dan memiliki rumah, ” beliau berkata, ”belilah / kontraklah rumah yang dekat dengan masjid, agar rasa malas untuk shalat berjamaah di masjid bisa diminimalisir karena suara adzan terdengar jelas dan jarak antar rumah dengan masjid dekat.”.’  Sebuah nasihat yang cukup bagus, yang terus mengingang-ngiang di telinga ini.

Ada keinginan beliau yang saat itu belum tercapai. Di sela-sela kesibukannya mengajar,  beliau sedang berusaha untuk bisa menghafal seluruh isi Al qur’an. Sebuah cita-cita mulia, hanya segelintir manusia yang mempunyai cita-cita itu. Kepada bapak Syamsuddin (mungkin nggak yaa beliau baca tulisanku?? ) semoga bapak selalu dalam lindungan dan kasih sayang Alloh SWT dan menjadikan keikhlasannya dalam mengajar, menjadi wasilah menuju pintu jannah-Nya. Amien.

 

 

 

Iklan